Ada dialog
antara seorang ibu-ibu berhijab dengan seorang pemuda yang ia temui sewaktu
berpapasan di jalan.
“Adik maksudnya apa?
Memakai kaos bertuliskan huruf-huruf Arab tapi kok bertato dan pakai kalung
salib? Mau melecehkan Islam?” Tanya sang Ibu.
“Ibu bisa baca bahasa
Arab?” Tanya balik si pemuda tersebut
“Bisa, “
“Apa Ibu bisa membaca
tulisan Arab di kaos saya dan tau artinya?”
Si Ibupun kebingungan
melihat tulisan Arab melingkar itu karena yang nampak memang bukan tulisan
Allah atau Muhammad. Melainkan ada huruf alif, ba dan nun, tiga huruf itu
saja yang bisa dibaca mata Ibu itu. Lantas si ibu terdiam dan pemuda itupun
kemudian berlalu.
Hal yang tidak
diketahui Ibu tersebut, bahwa sebenarnya tulisan Arab itu mengandung arti “Doa
Bapa kami”, hanya saja dituliskan menggunakan bahasa Arab.
***
Sepenggal cerita tadi cukup mencerminkan betapa pentingnya mengolah informasi untuk melakukan justifikasi dari apapun yang dijumpai. Manusia terlahir dalam keadaan bodoh, oleh karena itu Allah karuniakan penglihatan dan pendengaran. Manusia dikaruniai panca indra yang begitu sempurna jika dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya: hewan dan tumbuhan. Akan tetapi, yang terpenting adalah dikaruniakannya akal dan hati padanya. Inilah yang harus kita syukuri, yakni menggunakannya sesuai dengan yang Allah inginkan.
“Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak
mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat” (Al- Insan:2)
Allah karuniakan mata
tentu untuk melihat, sedang telinga untuk mendengar. Belum cukup dengan dua hal
itu saja, impuls yang telah diterima oleh reseptor pada sistem sensorik kita
akan diteruskan ke otak (akal dan pikiran) untuk diolah. Apakah yang kita lihat dan dengar itu benar
atau salah? Kenapa bisa begitu? Apa penyebabnya?
Dan sesungguhnya Kami jadikan
untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka
mempunyai telinga(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ( Al-A’raf [7]: 179)
Karunia mata dan
telinga dari Allah tidak lain sebagai sarana agar manusia bisa menyerap informasi
baik dalam bentuk ilmu fardu (agama, aqidah, dll) maupun ilmu dunia
(sains, sosial, bahasa, dll). Mata dan telinga sebagai jendela informasi, maka
penggunaannya harus disertai dengan akal dan hati. Jika tidak, maka
manusia bisa saja mendengar dalam sepi dan melihat dalam gelap. Dia hanya akan
menerima informasi secara mentah, tidak dapat mengolahnya menjadi sesuatu yang
jelas akan benar dan salahnya. Pelibatan akal dan hati membuahkan rasa dan
logika.
Jangan sampai kita
menyampaikan dan menyebarluaskan informasi yang masih belum jelas benar atau
salahnya. Ada satu bagian pada tubuh manusia yang jika baik bagian itu, maka
baiklah seluruh badannya, lidah. Lidah merupakan indra pengecap, fungsi
utamanya sebagai perasa dan membantu saat berbicara.
Adab berbicara:
sebaiknya segala apapun yang keluar itu bermakna. Diamnya seraya berdzikir
sedang ucapanya mencerminkan kebenaran dan keteladanan. Seperti dinukil
dalam surat An-nisa [4]:114, “Tidak ada kebaikan pada
kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali dari orang yang menyuruh (manusia)
memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara
manusia……”
Sebagaimana pula
disampaikan oleh Ustadz Syatori A., “Barang siapa yang menyimpulkan sesuatu
hanya dari pandangan mata semata, maka ia akan tertipu”. Oleh karena itu, mari
tumbuhkan rasa pada mata, telinga dan lidah kita. Allahu a’lam bishshowab.
Sumber:http://www.dakwatuna.com/2014/04/07/49181/olah-indra-olah-rasa/#ixzz2zlJUCXvT
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


Tidak ada komentar: