Explore Program Water Well
Sibuntung
-Jonggrangan,
Kulon Progo, Yogyakarta. Mengawali tahun 2017, DPU DT Yogyakarta melakukan
kegiatan Explore Program Water Well Sibuntung. Setelah program pembangunan
sarana air bersih “water well” dengan menggunakan teknologi hydran selesai
dikerjakan di tahun 2016. Kini program tersebut berlanjut, dengan wilayah penyebaran
yang semakin meluas. Tahun 2016 DPU DT Yogyakarta dengan dukungan para donator,
serta semua pihak yang turut berkontribusi dalam program water well, Alhamdulillah
telah berhasil menaikkan air setinggi 75 meter dengan jarak sekitar 3 kilo
dengan lokasi program yang berada di ketinggian 750-800 mdpl. Program tersebut
berhasil memenuhi kebutuhan air bersih sebanyak 148 titik, yang meliputi 3
Masjid & Mushola, 2 Sekolahan yakni SD & Madrasah Tsanawiyah, 1
Puskesmas, dan sisanya dalah rumah warga.
Program
yang dikenal dengan nama “Hydran Jonggrangan” ini berada di Dusun Jonggrangan,
Desa Jatimulyo Kec. Girimulyo Kab. Kulon Progo Yogyakarta. Dengan menggunakan
teknologi hydran program water well ini sangat murah meriah dan mudah dalam perawatan.
Cukup menggunakan tekanan air program ini tidak perlu membutuhkan listrik
sehingga sangat ramah, mudah perawatan dan murah meriah tentunya. Sebagai
fungsi managerial dan controlling program water well ini di kelola oleh
kelompok pengelola air bersih binaan DPU Daarut
Tauhiid Yogyakarta dengan nama “Tirto
Kencono”. Dengan management yang apik, program ini sama sekali tidak berbayar,
bahkan mereka akan mendapatkan uang di periode waktu tertentu. Berawal dari
banyaknya potensi alam yang melimpah di daerah sana, pengurus memiliki komitmen
untuk bias juga memaksimalkan segala sumber daya alam yang ada sehingga bisa berdampak
ekonomi tinggi dan berkeadilan. Sebagai salah satu contohnya misalkan, Pak
Muhjaidi sebagai ketua kelompok pengelola air bersih “Tirto Kencono”
menyampaikan “Jonggrangan adalah kawasan sentra Kambing PE/ Etawa yang terkenal
di Yogyakarta Mas Yadi, hampir setiap rumah memiliki ternak Kambing Etawa,
bahkan yang belum memelihara pun kemarin kita sudah programkan pemeliharaan
kambing etawa, nah sementara ini kotorannya belum bias kita maksimalkan,
rencananya nanti apara pemakai air bersih akan kami masukan sebagai anggota
pemakai air bersih, dan kotoran hewannya akan kami kumpulkan untyuk selanjutnya
kami olah menjadi pupuk organic yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi,
sehingga hasilnya akan mampu untuk membiayai program air bersih ini, kita sudah
siapkan wadah yang siap sebagai kantong intil, mereka pakai airnya berapa sudah
ada ukurannya, sisa dari biaya operasional air bersih tersebut akan menjadi SHU
bagi para anggota, jadi masyarakat tidak perlu bayar malah nanti dapat uang.
Ungkap Pak Muhjaidi yang sebagai inisiator program air bersih di kawasan
pegunungan menoreh ini.
Menyikapi hal ini, DPU DT juga melihat ada potensi
ekonomi yang tinggi disana, kedepan dengan system program yang terintegrasikan,
dengan cakupan program 4 dusun dengan daerah yang cukup berdekatan, ada
sebanyak 575 kepala keluarga atau jumlah jiwa sekitar 2000 orang, yang semuanya
akan menjadi penerima manfaat air bersih. Berdasarkan kajian team Litbang Dpu dan
informasi yang diterima dari para tokoh warga, rata-rata mereka mengeluarkan
uang sebanyak sekitar 500 ribu rupiah untuk belanja konsumsi rumah tangga bulanan
mereka. Dpu melihat ini potensi yang tidak sedikit, dengan jumlah belanja rata2
lima ratus ribu rupiah jumlah kk sebanyak 575 maka ada potensi perputaran uang
sebanyak minimal 250 juta rupiah setiap bulannya, 1 milyar rupiah setiap catur
wulan, dan ada potensi perputaran uang sebanyak 3 milyar setiap tahunnya,
sungguh uang yang tidak sedikit sesungguhnya. Melalui program air bersih ini
semoga akan mampu mewadahi segala potensi yang ada.
Kesemangatan
para warga telah berdampak sangat positif. Dengan jumlah 7 RT (Rukun Warga)
mereka setiap harinya bergantian untuk bekerja social, bergotong royong selama
kurun waktu 2 tahun. Hasilnya program tersebut telah menjadi inspirasi bagi warga
dusun sekitarnya yang sama sama berada di Pegunungan Menoreh Kulon Progo dengan
kondisi sama-sama mengalami kesulitan air bersih. Sebanyak 3 Dusun tambahan
yakni Sibolong, Gendu, & Mbenteng kini telah mengikuti jejak langkah para
warga Jonggrangan. Tahun 2017 rencananya kembali DPU Daarut Tauhiid Yogyakarta
akan menggulirkan program pembangunan sarana air bersih “water well” di tiga dusun
tersebut. Tepatnya hari Selasa kemarin team program DPU DT telah mengadakan
musyawarah dengan para tokoh masyarakat dan perwakilan warga untuk membahas
program tersebut kedepan. Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan explore mata
air Sibuntung yang melibatkan beberapa warga local. Mata air Sibuntung ini
berada di bawah pegunungan menoreh dusun Jonggrangan daerah perbatasan Desa
Jatimulyo dan Purwosari. Dengan ketinggian yang semakin dalam dan jarak yang
lebih jauh namun mat air ini memiliki debit air yang lebih tinggi, segingga
harapannya akan mampu mencukupi kebutuhan air di tiga dusun berikutnya.
Dalam perjalanan pulang kami melewati salah satu rumah warga yang berada
di daerah tertinggi dan berkesempatan mampir. Adalah beliau Ibu samini yang
hidup bersama Mbah Ponem dengan kondisi rumah yang sangat sederhana terbuat
dari kayu, suaminya baru 100 hari meninggal dunia, memiliki satu orang anak
yang juga tinggal bersamanya dengan bekerja secara melaju dari rumahnya Kulon Progo
menuju daerah Sleman Yogykara. Ibu ponem telah terbiasa berjuang dengan berjalan
kaki jauh turun ke dasar bawah untuk sekedar mengambil air bersih yang ia
gunakan sebagai konsumsi harian. Bahkan beliau menyampaikan telah mengeluarkan
biaya yang cukup banyak untuk membeli paralon, iuran, namun masih tetap saja
air bersih masih sulit ia dapatkan. Setelah kami menyampaikan agenda yang baru
saja dilakukan, nampak air mata yang mengharukan, seolah ia memiliki harapan
baru bahwa kedepan beliau akan lebih mudah mendapatkan air bersih. Mbah pun
memberi do’a pada kami semoag dilancarkan aktivitasnya, semangat, dan program
air bersih bisa segera sampai di rumahnya. Aamiin, Insya Alloh, Biidznillah..
By: Riyadi Suryana
By: Riyadi Suryana












Tidak ada komentar: