Rasulullah bersabda, “Bila Allah mencintai seseorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril, Sungguh Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia” Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit, “Sungguh Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia” Penghuni langit pun mencintainya. Nabi bersabda “maka si fulan dicintai penduduk langit dan dia pun diterima oleh penduduk bumi” HR. Bukhari
Umat muslim
adalah saudara, wajar jika rasa cinta tumbuh disela-selanya. Namun, cinta
yang hakiki hanyalah untuk Allah semata.
Ada tiga perkara atau sifat pada diri seseorang untuk mendapatkan manisnya
iman. Pertama, jika ia cinta kepada Allah dan rasul lebih dari selain pada
keduanya. Mencintai seseorang, yang ia tidak mencintai orang tersebut kecuali
karena Allah. Terakhir, membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah
selamatkan ia dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci untuk dilemparkan
kedalam api neraka.
Ada beberapa cinta manusiawi yang
harus diwaspadai, diantaranya sebagai berikut:
Cinta bisa
diartikan pada setiap fase kehidupan. Bagi yang sudah berkeluarga, cinta kepada
istri adalah hal manusiawi. Suami/Istri manusia biasa, tapi pelindung mereka
dari mara bahaya tetap Allah saja. Muadz bin Jabal, aku mendengar Rasul
bersabda, “Allah berfirman : orang yang saling mencintai karena keagunganKu
mereka mendapat mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri
kepada mereka” HR. Imam Tirmidzi. Jatuh cinta fitrah manusia, tapi harus sadar.
Lebih banyak mana berharapnya, pada Allah atau makhluknya. Urusan jodoh Allah
yang atur. Allah memilihkan, Allah pula yang menaruh cinta.
Selain cinta
pada manusia, adapula cinta kekayaan. Padahal, Kekayaan yang ada di langit dan
di bumi semua milik Allah. Ia yang Maha Kaya. Allah yang memberi, membagi
rejeki. Allah pula yang bisa menahan atau mengambilnya dari manusia. Bagaikan
memegang kawat duri. Semakin dipegang erat, semakin menyisakan luka,
perih, sakit saat diambil kembali. Allah yang menitipkan kekayaanNya. Allah
bisa mengambilnya kembali, kapanpun Allah mau.
Harta,
jabatan, barang dll tidak untuk disayang berlebihan. Zaman dahulu tetap aman
meski belum ada motor, mobil mewah, laptop canggih, HP. Jika Allah menghendaki,
Ia sempitkan nadi yang menuju jantung saja akan terasa sakit, biaya berobat tak
sedikit. Mudah bagi Allah mengambil kembali miliknya.
Adapun bisnis
itu ibadah. Tetapi bukan bisnis barang melainkan amal shaleh. Lewat bisnis,
manusia berperan sebagai jalan rizki. Rizki sudah ada dan diatur oleh-Nya agar
cukup, yang belum ada adalah pahalanya. Khusnudzon menjadi kunci agar rezeki
dan pahala didapat semua. Allah memerintahkan untuk shalat tepat waktu. Misal, Saat
bisnis toko ditutup sebelum adzan berkumandang, bangkrut tidak? Tidak. Jika patuh
dan taat perintahnya Allah tidak akan mampetin rejeki. Rejeki bukan tentang
untung banyak atau sedikit, barang terjual habis atau tidak, melainkan
keberkahannya. Untung banyak kalau jauh dari Allah, rugi.
Semoga kita menjadi
hamba-Nya yang pandai bersyukur. Tidak berlebihan cintanya pada barang dan
manusia, menjaga cinta hanya untuk Allah saja.
(sumber : Kajian MQfm Aa Gym)


Tidak ada komentar: