Manusia yang bersifat
sosial, saling membutuhkan satu sama lain. Silaturahmi menjadi kunci dalam bersosial dan merupakan
salah satu fitrahnya manusia. Silaturahmi secara maknawi, yaitu menyambung
hubungan persaudaraan dan kekerabatan. Silaturahmi merupakan akhlak yang mulia.
Ibarat jaring
laba-laba, semakin luas sarang yang ia buat, semakin banyak mangsa (makanan)
yang ia peroleh. Begitupun dalam silaturahmi merajut relasi. Tidak perlu repot
memikirkan bagaimana memulainya. Zaman sekarang telah dimudahkan dengan berbagai
kemajuan dunia komunikasi dan transportasi. Adanya handphone, social media (facebook, twitter, path, e-mail) bahkan
kini banyak aplikasi di Smartphone seperti
WhatsApp, Line, KakaoTalk, WeChat menjadi alternatif media. Mendekatkan yang
jauh, mengeratkan hubungan dan menyulam persaudaraan yang lama renggang. Bukankah
menjadi mudah dan mendatangkan berkah?
“...Dan bertakwalah kepada Allah
yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu.” (QS An Nisaa:1).
Rasulullah saw juga bersabda,
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan
ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali)
silaturahim.” (HR. Bukhari)
Dua (2) keutamaan
bersilaturahmi menurut hadis Rasulullah tersebut,
1.
dilapangkan (diluaskan) rezekinya
Rezeki
yang utama adalah keberkahannya. Sedikit, banyak, untung, rugi jika Allah
ridho, insyaAllah berkah. Alloh telah cukupkan rezeki hambanya dan rezeki bisa
datang dari arah yang tak disangka-sangka bagi hambanya yang beriman. Bisa
datang lantaran teman dekat kita, saudara jauh, guru semasa sekolah dll. Rejeki
sudah ada dan ditetapkan, manusia ditugaskan untuk menjeputnya. Melalui
silaturahmi semoga menjadi pembuka pintu-pintu keberkahan itu.
2.
diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)
Secara
hakiki, bisa diartikan dengan memiliki usia mencapai tua dan masih sehat.
Allahu ‘alam. Umur dapat juga berarti urusan. Umur panjang bisa dipadankan dengan
karya. Panjang umur berarti banyak aktivitas mulia yang tulus dan karya besar
yang menjadi amal jariyah saat ia sudah tiada nantinya serta kebermanfaatannya
bagi sesama.
Teladan
seorang Imam Bukhari, perumus kitab hadis yang menjadi acuan umat muslim
sedunia, bahkan kitabnya adalah yang valid setelah Al-Qur’an. Beliau rajin
menuntut ilmu pada guru-gurunya meski harus menempuh jarak sangat jauh.Ia
hampiri satu persatu. Semangatnya menjalin silaturahmi seraya berguru pada Adam
bin Abu ‘Ayasyi meski diperjalanan sampai kehabisan uang tetap ia lakukan. Kegemarannya
menjalin silaturahmi inilah mengantarkan pada karya besarnya Shahih al-Bukhari1.
Meski telah tiada, namun karyanya tetap berjaya.
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus
hubungan kekerabatan (ar-rahim)" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Tidak
ada salahnya menyambung dan menjaga silaturahmi yang sudah
terjalin, tentu saja dengan siapapun yang masih dalam batasan-batasannya.
Tiga (3) hal yang bisa
memicu pudarnya silaturahmi antar kita,
- 1. Merasa ada perbedaan golongan. Tindakan rasisme seharusnya dihilangkan. Anggapan berbeda golongan, beda partai politik, beda organisasi, beda strata bukanlah jurang pemisah.
- 2. Adanya salah paham. Pada masalah ini, ilmu tabayyun harus didahulukan. Tidak ada salahnya, jika meminta maaf pertama itu lebih utama.
- 3. Adanya sifat tamak, egoisme, individualis, hasud, dengki dan penyakit hati lainnya dapat memicu pertikaian bahkan antar saudara kandung sekalipun. Naudzubillah.
...
ya Rabb,
Sehangat dekapan ukhuwah
kami satukan derap langkah
tuk meniti harapan menuju Jannah
pertemukan kami dalam reuni akbar-Mu
dengan menjaga dan memperkuat ikat tali silaturahmi ini
Sehangat dekapan ukhuwah
kami satukan derap langkah
tuk meniti harapan menuju Jannah
pertemukan kami dalam reuni akbar-Mu
dengan menjaga dan memperkuat ikat tali silaturahmi ini
*kajian Ust. Syafi'i Masyruri
*1 buku The Great Power of Mother oleh Solikhin Abu Izzudin & Dewi Astuti hal 167-169

Tidak ada komentar: